Tags: berubah parikan, budaya, kebudayaan ludruk, Kesenian, lakon ludruk sawunggaling, ludruk anak-anak, ludruk muda, ludruk sawunggaling, pagelaran ludruk, parikan jula juli, parikan suroboyo, pengaruh nonton komedi terhadap pelajaran bahasa inggris, seni tari yapong, tari ludruk, tarian gending sriwijaya, tarian ludruk
Esuk nyuling bengi yo nyuling
Sing nyuling arek Suroboyo
Esuk eling bengi yo eling
Sing dieling-eling ora rumongso
artinya
Pagi meniup suling, malam meniup suling
Peniup sulingnya cowok Suroboyo
Pagi teringat, malam juga ter ingat
Yang diingat-ingat tidak merasa
Syair diatas adalah parikan dalam kidungan Jula-Juli Suroboyo yang sering dikumandangkan dalam suatu pentas ludruk, baik oleh penari remo maupun oleh para pelawak. Parikan diatas nuansanya adalah kerinduan. Ada pula parikan bernuansa perjuangan seperti yang dikumandangkan oleh Cak Durasim dengan parikan populernya ” Pagupon omahe dara, melu Nipon tambah sengsara “. Parikan ini membuat Cak Durasim diseret ke penjara oleh Jepang.
Saya termasuk penggemar beratz ludruk sejak kecil, tak ada pagelaran ludruk dikampung yang tak saya hadiri. Jika ceritanya lucu atau bagus maka saya baru pulang setelah pntas selesai. Setelah dewasapun saya masih sering menonton siaran ludruk dilayar televisi karena pagelaran ludruk baik digedung maupun pentas ditempat orang punya hajat sudah sangat jarang ditemukan. Bahkan di televisipun tayangan ludruk nyaris hilang kecuali TVRI Jawa Timur.
Saya khawatir, ludruk dan kesenian tradisional yang lainnya akan langka karena semakin berkurangnya minat generasi muda untuk menonton, belajar, memelihara dan menjaga kelestarian budaya bangsa. Jangan-jangan cucu-cicit kelak sudah tidak tahu lagi tari Serampang Dua Belas, Tari Lilin, tari Saman, Tari Bondan, Tari Gong, Tari Lenso, Tari Pendet, Tari Jaipong dan lain sebagainya. Jangan-jangan ada suatu masa yang main ketoprak, wayang orang malahan si James, Patrick, John Smith, Van Dahlen, Jian Jiu, Shusumu Akhubhawa, Pratap Singh, Fernando Taucho dan bangsa-bangsa lain. Sementara para blogger seperti Casrudi, Adelia, Agus Sukarno, Made Gelgel,Yayat, Sugeng,Sumardiyanto, Lily, Novia, Fanty, Tiwi, Lina, Ningrum, Desri, Yulia, Agnes Sekar dan lain-lainnya malah duduk jongkok menonton pagelaran mereka.
Jika seluruh bangsa ini pernah sewot manakala sebuah tarian di klaim bangsa lain, mengapa kita tidak serentak senewen jika kita sendiri tidak bisa memelihara dan melestarikan budaya bangsa.
Mengapa Blogger, Facebooker tidak membuat Gerakan Lestarikan Budaya Bangsa ? Mengapa Guskar tak tergerak hatinya untuk membentuk Ketoprak Blogger ?
Bagaimana pendapat sahabat ??
***
Foto : Dokumentasi Ludruk Karya Budaya-Mojokerto ( Semoga Ludruk Karya Budaya tetap jaya-terima kasih)
***





Silahkan memberikan komentar anda disini tentang memelihara dan melestarikan budaya bangsa. J’.BLOG menyiapkan 5 tali asih yang menarik untuk komentator yang lolos undian.
Salam hangat dari Surabaya.
[...] Setujukah jika kita dan para generasi muda bangkit untuk menjaga,memelihara dan melestarikan budaya bangsa ? Berikan komentar anda di J’Blog pada artikel berjudul I Love Ludruk [...]
bisa dimulai dengan melestarikan bahasanya, pak de
banyak anak-anak sekarang yang berlomba-lomba belajar bahasa asing, tapi malah ndak ngerti bahasa daerahnya sendiri
biarpun saya guru bahasa Inggris, tapi saya tetep merasa penting untuk bisa berbahasa daerah.
wong Google aja ada pilihan basa jawanya koq
mosok kita yang punya bahasa ndak mau make?
leres nopo mboten nggih?
ps: jadi inget kang sugeng, yang punya pelajaran bahasa jawa di blog-nya….
Terima kasih atas partisipasinya
Saya catat sebagai peserta
Silahkan menunggu pengumuman diblog ini atau blog saya yang lain.
Salam hangat dari Surabaya
Assalamu’alaikum wr.wb.
Saya mendengar curahan hati pak dhe dg seksama. Saya turut prihatin atas keadaan generasi muda yang mulai tak bangga dengan budaya sendiri namun marah kala budaya itu di klaìm bangsa lain. Kurangnya penampilan budaya di tv turut melunturkan rasa bangga generasi muda. Sebuah opini ‘kampungan’ yang disematkan pada budaya sendiri jg turut andil menyamarkan rasa sayang dan bangganya generasi muda akan budaya. Semua yang buruk kalau disebut terus menerus bs jd ‘dianggap’ baik. Dan sesuatu yang baik jika disebut terus menerus akan tetep baik dan semakin baik. Salam komen panjang pak dhe.
Terima kasih atas partisipasinya
Saya catat sebagai peserta
Silahkan menunggu pengumuman diblog ini atau blog saya yang lain.
Salam hangat dari Surabaya
Mari tanamkan rasa bangga thd budaya sendiri. Salam
Dimulai dari sekarang
Sebagai bangsa yang arif, alangkah baiknya kita merefleksikan keadaan diri sendiri. Apa saja kesalahan bangsa ini sehingga kecolongan budaya seperti ini bisa terus terjadi? Dan, tentunya pemuda sebagai generasi harapan bangsa musti mengakui jika ini juga adalah bagian dari kesalahan mereka. Pemuda musti sadar, klaim budaya oleh bangsa asing adalah akibat ketidakpedulian pemuda Indonesia untuk merawat kebudayaan sendiri.
saya sependapat, kita kurang mencintai budaya sendiri
Realitas membuktikan bahwa pemuda saat ini telah banyak yang lupa dan tak acuh atas eksistensi budaya Indonesia. Kebudayaan asli yang arif dan luhur dipinggirkan, terkalahkan budaya barat yang serba instan. Jika dari para pemudanya tidak memahami dan menghargainya, sudah barang tentu kebudayaan bangsa menjadi hal yang rapuh dan lapuk termakan faktor internalnya. Negara lain lah yang akhirnya memanfaatkan potensi budaya kita.
sekarang orang kampung lebih senang nanggap dangdut daripada tari daerah
pemuda banyak yang lebih senang disco dan Rap
banyak senggolannya
Pemuda Indonesia harus berubah dan mulai peduli pada kebudayaannya sekarang juga. Biarlah kesalahan dalam memperlakukan budaya diakhiri sampai di sini saja. Haruslah peristiwa klaim budaya Malaysia ini sebagai cambuk awal pemuda untuk lebih menghargai kebudayaan bangsa!
Terima kasih atas partisipasinya
Saya catat sebagai peserta
Silahkan menunggu pengumuman diblog ini atau blog saya yang lain.
Salam hangat dari Surabaya
Salam hangat juga dari Soppeng pakDe
Kalau di Jateng ada tempat wisata namanya Kopeng..saya pernah menginap disana
I Love Ludruk « J’BLOG…
Saya khawatir, ludruk dan kesenian tradisional yang lainnya akan langka karena semakin berkurangnya minat generasi muda untuk menonton, belajar, memelihara dan menjaga kelestarian budaya bangsa. Jangan-jangan cucu-cicit kelak sudah tidak tahu lagi tari…
wah lama banget aku nggak lihat dan denger ludruk… jadi kangen
sama mas, nggak pernah lihat ludruk secara live lg
I Love Ludruk « J’BLOG…
Saya khawatir, ludruk dan kesenian tradisional yang lainnya akan langka karena semakin berkurangnya minat generasi muda untuk menonton, belajar, memelihara dan menjaga kelestarian budaya bangsa. Jangan-jangan cucu-cicit kelak sudah tidak tahu lagi tari…
Wow,aku juga jadi pengen kesurabaya… Melihat kesenian tradisional disana… pasti menarik…
sekarang kalau nggak ada cara khusus susah cari ludruk
I Love Ludruk « J’BLOG…
Saya khawatir, ludruk dan kesenian tradisional yang lainnya akan langka karena semakin berkurangnya minat generasi muda untuk menonton, belajar, memelihara dan menjaga kelestarian budaya bangsa. Jangan-jangan cucu-cicit kelak sudah tidak tahu lagi tari…
wuaaaaaah… yo tentu saja saya sangat suetuju Pakde, lhawong saya ini penggemar Cak Kartolo koq.
iwak cuyu yo iwak kepiting…
tak dekek lemari digondhol kocing.
nguber arek ayu Pakde sampek keponting…
bareng wis kenek, jange tak rabi dadakno sinthing, hahaha…
wuasem tenan..!
tamatan Menur kaleee mas ceweknya
Terima kasih atas partisipasinya
Saya catat sebagai peserta
Silahkan menunggu pengumuman diblog ini atau blog saya yang lain.
Salam hangat dari Surabaya
yang penting kita melindungi diri kita dan keluarga dari budaya asing baru ita menangajak orang lain…
benar sekali mas
Terima kasih atas partisipasinya
Saya catat sebagai peserta
Silahkan menunggu pengumuman diblog ini atau blog saya yang lain.
Salam hangat dari Surabaya
setuju tidak pakdhe, satu orang ngajak 1 untuk menyayangi dan melesarikan budaya kita…
wah setuju sekali mas
setuju Pakde, Budaya bangsa kita itu sebenarnya anggun mempesona hanya saja tidak dikelola dengan baik. sedih dong klo kita beli karcis buat nontonin bule main ludruk
bisa mbrebes mili donk say. Tapi si Elizabeth tuh pandai tari Ngremo dan tari Jawa lainnya lho. Bahasa Jawanya juga halus kok..aku aja kalah kalau ngomong Jawa halus.
Terima kasih atas partisipasinya
Saya catat sebagai peserta
Silahkan menunggu pengumuman diblog ini atau blog saya yang lain.
Salam hangat dari Surabaya
#febri sekarang bukan Raja Komentar#
akses telkomsel flashnya lemot baget sih,
kuota fair usagenya juga di kurangi hickz2
Flash Harus Lebih baik
Begitu dekat begitu nyata
(muka sedih muncul)
tapi kok lemot yaaa
Melestarika budaya bangsa memang kudu Pakde. tak hanya di bebankan pada pemerintah saja, atau para pelaku buadaya nusantara itu sendiri. Kesadaran akan budaya Indonesia yang harus di jaga jelas penting. Tidak hanya karena ragamnya, tetap budaya itu sendiri telah mengiringi peradaban di Indonesia, hingga sudah menjadi jiwa..yang termanifestasikan dalam bentuk laku ketimuran atau apalah istilahnya.
Saya sepakat sekali jika komunitas maya ini ikut mendorong penyadaran akan pentingnya menjaga budaya nusantara ini.
salam.
Terima kasih atas partisipasinya
Saya catat sebagai peserta
Silahkan menunggu pengumuman diblog ini atau blog saya yang lain.
Salam hangat dari Surabaya
sejak datang ke jakarta waktu itu aku udah berniat untuk belajar tarian jawa soalnya selama ini yang dikuasai hanya tarian dari sumatera
tapi begitu mulai kerja dan segalanya udah ga sempat deh mulai belajar
*nyesel*
aku mendukung pelestarian budaya pakdhe
terutama tarian
ajariiiiiiiiiiiiiiiiin
Terima kasih atas partisipasinya
Saya catat sebagai peserta
Silahkan menunggu pengumuman diblog ini atau blog saya yang lain.
Salam hangat dari Surabaya
kebayang horornya kalau sampai kita antri karcis utk lihat orang2 asing mementaskan ludruk………………………ikh jadi merinding bin miris PakDhe.
lalau, bagaimana cara terbaik utk kembali memasyarakatkan kesenian daerah ini, agar generasi muda mencintai budaya daerahnya sendiri,Pakdhe ?
salam.
Terima kasih atas partisipasinya
Saya catat sebagai peserta
Silahkan menunggu pengumuman diblog ini atau blog saya yang lain.
Salam hangat dari Surabaya
Menurut saya, bisa dimulai dari level sekolah. Jika ada ekskul drama, boleh juga diadakan ekskul ludruk ini dan bisa nampil pada acara ultah sekolah atau perpisahan, walaupun mungkin peralatannya masih minjam/nyewa. Pengasuhnya tentu saja anggota dari kelompok ludruk yang ada di daerah tersebut
Terima kasih atas partisipasinya
Saya catat sebagai peserta
Silahkan menunggu pengumuman diblog ini atau blog saya yang lain.
Salam hangat dari Surabaya
setiap pulang mudik saya sempatkan untuk nonton wayang orang Sri Wedari Solo. Sungguh memprihatinkan. kursi yang berjumlah ratusan hanya terisi belasan penonton. saya sangat salut dng para senimannya, jiwa raganya sepertinya hanya utk melestarikan budaya bangsa.
masih dalam rentang waktu yg sama, seorang kenalan punya hajat mantu. hiburan wayang kulit. yg membuat saya tersentak kaget waranggana-nya gadis bule. bahasa jawanya sangat halus. fasih sekali ia nembang lagu2 macapat. malu juga, orang asing saja sudi belajar sungguh2 budaya kita, sementara sebagain dari kita sama sekali nggak peduli dng budaya kita yg adiluhung itu.
untuk ludruk, saya sesekali masih dengarkan ludruk sawunggaling – cak kartolo cs, seperti lakon marlena ketemu jodoh atau kartolo nyetrip. atau dagelan mataraman pak basiyo dan djunaedi cs. sayangnya, di rumah, hanya saja yang suka.
ketoprak blogger? saya siapkan satu skenario ya dhe he..he…
Di Jatim ada Elizabeth, bisa tari ngremo dan tari Jawa lainnya, nembangnya juga bagus. Jeng Ngatno kalah deh.
Terima kasih atas partisipasinya
Saya catat sebagai peserta
Silahkan menunggu pengumuman diblog ini atau blog saya yang lain.
Salam hangat dari Surabaya
Sejujurnya saya menghawatirkan budaya ludruk kita musnah, pasalnya generasi mudah kurang meminati ludruk. rasanya sosialisasi dan mengenalkan pada anak muda (yang masih kecil-kecil) adalah salah satu cara melestarikan budaya ludruk. Ludruk sekarang seperti dikesampingkan dibandingkan konser-konser musik.
Saya suka sekali mendengarkan ludruk lewat radio
Suzana FM, mudah-mudahan acara radio tersebut masih dipertahankan selamanya..Saya malah belum pernah mendengarkan Radio SuZana mas, saya punya koleksi ludruk Kartolo Cs.
Terima kasih atas partisipasinya
Saya catat sebagai peserta
Silahkan menunggu pengumuman diblog ini atau blog saya yang lain.
Salam hangat dari Surabaya
niat mulia ini harus didukung dan dilestarikan…
Terima kasih atas partisipasinya
Saya catat sebagai peserta
Silahkan menunggu pengumuman diblog ini atau blog saya yang lain.
Salam hangat dari Surabaya
Wah, ini juga punya-nya Pakdhe Cholik!
Sudah punya berapa blog Pakdhe? Tujuh, ya?
Iya mas, entar kalau sudah gemuk dijual ha ha ha
Gerakan Lestarikan Budaya, sangat sulit dilakukan karena ada beberapa alasan :
1. Budaya itu hal yang dinamis, apabila ada yang mencoba melakukan “pembekuan” terhadap berarti telah menghilangkan kedinamisannya.
2. Budaya yang sekarang dilestarikan hanya dicenderungkan untuk pariwisata saja (untuk cari duit belaka), ini jelas mengingkari makna kebudayaan.
3. Tidak ada komitmen yang jelas dari pemerintah, terhadap kebudayaan daerah. Tak ada gedung yang representatif untuk pentas kesenian dan tidak ada kurikulum yang terarah untuk diajarkan di sekolah.
4. Sinisme bahwa kebudayaan itu hal yang kuno dan tidak “layak pakai”.
5. Hilangnya transfer kebudayaan dari orang tua ke anak. Lihatlah sekarang berapa banyak orang tua yang suka mendongeng, khususnya tentang sejarah budaya sukunya, mengajarkan nembang dan tarian. Kalaupun ada hanya sebatas wilayah tertentu, yang sebenarnya sekarang lebih ke arah bisnis belaka.
Meskipun begitu saya tetap cinta budaya negeri ini, tetapi tidak melupakan esensi sebuah kebudayaan. Kebudayaan itu mengada untuk “memberikan” yang terbaik, sekaligus identitas bagi bangsanya (tanpa harus terjerumus dalam kekakuan wujudiyah).
Indosiar dulu suka siarkan Ludruk, WO, Wayang Kalu dan budaya lainnya, sekarang kayaknya dah sepi lagi…
Dikampung lebih suka nanggap dangdhut daripada ludruk atau ketoprak akhirnya mereka bubar.
Terima kasih atas partisipasinya
Saya catat sebagai peserta
Silahkan menunggu pengumuman diblog ini atau blog saya yang lain.
Salam hangat dari Surabaya
Sebuah perspektif yang mendalam,mas. Terima kasih.
Benar, bagus ulasannya
Untuk ritual tertentu yang sudah lama hilang, seperti Bersih Desa bahkan dilaksanakan sampai tingkat perkotaan. Juga ada ruwatan massal. Namun sayang salah satu budaya yang mulai tenggelam adalah Wayang Tengul!
wayang krucil alias wayang kayu juga gak muncul lagi, yg sll lakon Menak2, umar maya,dll ityu mas.
Menurut saya pelestarian budaya ini harus dimulai dari lingkungan keluarga masing-masing,pakde. Soalnya susah mengharapkan pihak luar ikut bertanggung jawab.Dulu mbah saya memperkenalkan saya pada wayang golek,dan sampai sekarang saya jadi suka. Bapak saya selalu mengajak kami untuk nonton pameran lukisan jadi sampai sekarang kami suka mengapresiasi jika melihat sebuah lukisan. Itulah pentingnya peranan sebuah keluarga. Salam jepret!
Benar mas, namun ludruk, ketoprak kadang pentasnya juga terlalu lama, sampai pagi je. Harusnya sudah dirubah menjadi Ludruk padat sehingga jam 24.00 atau 01.00 sudah klar.Pemainnya juga cukup banyak sehingga berat bagi pemangku hajat he he he, makan dan rokok plus kopi,dll.
Terima kasih atas partisipasinya
Saya catat sebagai peserta
Silahkan menunggu pengumuman diblog ini atau blog saya yang lain.
Salam hangat dari Surabaya
memang pergeseran budaya semangkin pesat. nilai2 luhur seni dan budaya jadi mlempem seperti krupuk kudanan.
Kalo bukan kita sebagai warga negara Indonesia, siapa lagi yang akan melestarikannya. Opo yo seneng kalo budaya kita diembat lagi oleh negara lain? Benul ndak Pakdhe?
Bendul mas, jangan2 entar tari Yapong juga di klaim negara lain
Ntar, sebelum komen lebih lanjut…Ada ga ludruk yang ga pake bahasa Jawa ? Hehehehe…karena saya bukan orang Jawa, jadi ludruk rasanya asing aja. Kalau saya liat diTV, saya ga ngerti apa yang tokoh2 itu katakan.
kalau di TV pake bahasa jawa kalau dikampungku pake bahasa jawa karena lebih ceplas-ceplos,apalagi nglwaknya pasti bhasa Jawa..kadang pemeran polisi itu baru pake bahasa Indonesia.
Apa saya saja yang kurang tahu bahwa sebenarnya ludruk juga ada yang berbahasa Indonesia ? Nah, kalau ketoprak humor, saya masih ngerti dikit (kalau ga pake bahasa Jawa sih). PakDe pernah nonton ‘Ngelenong Yuk’ ga di RCTI ? Saya paling suka acara itu, dulu pagi2 jam8…TV di rumah pasti channelnya itu. Keren, lucu, dan ga malu2in bangsa deh kalau nampil di forum dunia. Lho sampai segitunya ya….
iya namanya juga lenong anak muda yank
PakDe, mungkin para blogger bukan tidak mau melestarikan budaya bangsa. Kalau saya lihat, ada Pak Isro, yang menampilkan upacara adat dan bagian yang berkenaan di blog Batasvuqu. Mereka berusaha mengangkat nilai budaya dari bangsa ini.
Kalau di Palembang, tari Gending Sriwijaya masih nampil di acara nikah,PakDe….Dul Muluk masih nampil di TV, berbalas pantun berbahasa Palembang juga masih disiarkan di TVRI.
iya memang ada, tapi anak muda tetap senang nonton Jak Jazz daripada nonton lenong kan say. di Jawa juga gitu, tari jawa kalau ada acara persmian ini itu, kalau punya hajat lebih senang dangdhutan
Ketoprak blogger ? Gimana pula tuh,PakDe ? Saya kira, harus ada yang memulai. Harus ada promotornya. Begitulah masyarakat kita PakDe, mau dikompori dulu baru panas. Postingan ini adalah minyaknya biar tuh kompor bisa nyala….
ha ha ha, ketoprak blogger itu kan artikel pengantar untuk membawa blogger ke blog ini tho nduk….tapi kalau mau ya bisa sih, mungkin hanya untuk konsumsi di TV aja.
Ntar saya ikut promosiin ke blog saya deh….Konsepnya (boleh usul ga nih,Pak ?)
Bahasanya jangan Jawa dunk. Kita pake bahasa sumpah pemuda (hehehe, bahasa pemersatu bangsa gitu)….Trus, dibuat komedi gitu….
Iya bahasa inti ya bahasa Indonesia, tapi boleh diselingi bahaa daerah masing biar rameeeee….
Udah masuk Top5 belum ya?
udah, ranking 2 tuh yank
Hah !Dah, masuk Top 5 komentator ! Wow, seruu nih….
hadiahnya tekwan, model atau martabak mesir nduk ??
nginceng lagi di siang hari Pakdhe
berharap dapet pertamaaxxss runtuh
malah dapat petromax ha ha ha
sudah sangat lama saya tidak menyaksikan ludruk, setidaknya setelah pindah ke Jawa barat, karena tak ada TVRI Surabaya
di TV Jatim masih ada mas,saya suka sekali ntuh
Linknya ini juga sudah saya pasang PakDhe!
sip mas, entar saya pasang disini linknya.