Tags: arti gerakan disiplin nasional, artikel gerakan disiplin nasinal, artikel kedisiplinan, artikel kedisiplinan nasional, artikel tentang disiplin diri sendiri, dimulai dari diri sendiri, disiplin, disiplin diri, disiplin diri sendiri, disiplin masyarakat, disiplin nasional, disiplin pribadi, disiplin pribadi dan nasional, disiplin secara nasional, displin pribadi, GDN, gerakan disiplin nasional, kedisiplinan diri, kedisiplinan diri sendiri, kedisiplinan nasional, kedisiplinan pemuda, kedisiplinan pribadi, pribadi, pribadi disiplin
Kita tentu sudah mengenal sebuah cerita tentang seorang pemuda yang masih bebas dan imajinasinya mengembara tanpa batas yang bercita-cita untuk mengubah dunia. Tatkala ia menjadi semakin tua dan bijaksana ia menyadari bahwa dunia tak akan bisa berubah. Oleh karena itu ia memendekkan sasarannya dan memutuskan untuk mengubah negerinya saja. Namun cita-cita inipun kandas di tengah jalan. Manakala ia makin jauh mengarungi masa tuanya maka ia bertekad untuk mengubah keluarganya , mereka yang mempunyai hubungan terdekat dengannya. Lagi-lagi tekadnya itu tak membuahkan hasil. Keluarganyapun tak bisa dirubahnya. Akhirnya, ketika ia terbaring di ranjang menunggu kematiannya, ia lalu menyadari bahwa seandainya dulu ia mengubah dirinya sendiri melalui teladan-teladan, barangkali ia akan bisa mengubah keluarganya. Selanjutnya dari inspirasi dan dorongan serta dukungan mereka barangkali ia bisa merubah negerinya dan siapa tahu ia mungkin bahkan mampu merubah dunia.
Disiplin Nasional juga tidak bisa tumbuh sendiri. Disiplin Nasional lahir dari disiplin pribadi, disiplin kelompok, disiplin golongan dan disiplin masyarakat. Semuanya itu harus ditumbuhkan, dipelihara dan ditegakkan secara lurus oleh kita sendiri. Pelaku Gerakan Disiplin Nasional adalah masyarakat sendiri sedangkan aparat pemerintah hanya membantu kemudahannya saja. Disiplin pribadi harus menjadi sikap batin, kebiasaan dan kebutuhan hidup masyarakat itu sendiri. Kondisi ini hanya akan bisa dicapai apabila masyarakat merasakan manfaatnya.
Dalam kasus banjir misalnya, banyak pakar dan pengamat yang mengatakan bahwa diantara penyebab bencana alam itu adalah budaya membuang sampah secara sembarangan ke selokan dan sungai, penebangan hutan secara liar dan pendirian rumah-rumah liar di bantaran sungai.
Bebeberapa saat setelah banjir usai masyarakat dengan tertib membuang sampah ditempat yang disediakan. Namun itu hanya bertahanan beberapa bulan saja. Kini kita lihat disungai tampak bertebaran lagi sampah-sampah yang siap menyongsong banjir di musim hujan nanti. Begitu berulang-ulang setiap tahun. Disiplin membuang sampah hanya bersifat musiman.Kasus serupa juga terjadi di tempat wisata. Pada pagi hari kita bisa melihat onggokan dan sebaran sampah di berbagai tempat yang merupakan pekerjaan masyarakat pada malam hari sebelumnya.Padahal tempat sampah telah disiapkan, namun masyarakat enggan melakukannya.
Mereka barangkali berpendapat bahwa petugas kebersihanlah yang bertanggung jawab untuk membereskan sampah-sampah yang mereka tinggalkan karena memang para petugas digaji untuk itu. Papan bertuliskan “ Buanglah sampah pada tempatnya !!” seolah hanya hiasan tanpa makna dan tak mampu menyentuh kesadaran masyarakat.
Dalam kasus lain, misalnya kemacetan lalu lintas, para pengguna jalan kurang kesabarannya untuk antri. Mereka lebih senang berjalan berkelok-kelok untuk mencari celah. Bahkan sering terjadi ruas jalan yang hanya terdiri dari dua atau tiga jalur dijejali oleh empat kendaraan. Akibatnya kendaraan yang datang dari arah berlawanan terhenti dan kemacetan semakin menjadi-jadi.
Jika kita ungkap satu persatu perilaku individu yang tidak disiplin maka akan menjadi sebuah deretan panjang karena terjadi hampir disemua lini kehidupan.




Semoga artikel ini bermanfaat bagi saya pribadi dan para sahabat.
Salam hangat dari Surabaya
Artikel diatas di submit ke social bookmark :
1. liputankhusus.com
2. yebooo.com
3. kliksite.com
4. infogue.com, dan
5. lintasberita.com
Sebagai salah satu cara untuk promosi blog secara online sambil menyebarkan ilmu pengetahuan walaupun sedikit.
Disiplin Nasional Dimulai Dari Diri Sendiri | J’BLOG…
Disiplin Nasional juga tidak bisa tumbuh sendiri. Disiplin Nasional lahir dari disiplin pribadi, disiplin kelompok, disiplin golongan dan disiplin masyarakat. Semuanya itu harus ditumbuhkan, dipelihara dan ditegakkan secara lurus oleh kita sendiri. Pel…
Disiplin Nasional Dimulai Dari Diri Sendiri | J’BLOG…
Disiplin Nasional juga tidak bisa tumbuh sendiri. Disiplin Nasional lahir dari disiplin pribadi, disiplin kelompok, disiplin golongan dan disiplin masyarakat. Semuanya itu harus ditumbuhkan, dipelihara dan ditegakkan secara lurus oleh kita sendiri. Pel…
Disiplin Nasional Dimulai Dari Diri Sendiri | J’BLOG…
Disiplin Nasional juga tidak bisa tumbuh sendiri. Disiplin Nasional lahir dari disiplin pribadi, disiplin kelompok, disiplin golongan dan disiplin masyarakat. Semuanya itu harus ditumbuhkan, dipelihara dan ditegakkan secara lurus oleh kita sendiri. Pel…
mampir melapor dulu sebelum bertugas sebagai perwujudan kedisiplinan
;laporan saya terima-silahkan ngeblog dulu
ah, cape deh kl ngomongin ttg disiplin di negri ini..
jd inget nasehat 3M dari Geger kalong..
mulai dari diri sendiri
mulai dari hal terkecil
mulai dari sekarang
benar, lihat di jalan raya, main srobot-main nyalip tanpa melihat kiri-kanan
siap Pakdhe. ikut menerapkan disiplin sejak dini. Sebab kalo bukan diri kita sendiri, lantas siapa yang akan memulainya? Mosok ya orang lain.
kalau nggak displin makan bisa sakit, kalau nggak disiplin mbayar iuran listrik bisa di pedhot alirannya.
Wah mantap dah pakdhe
Memang harus dimulai dari diri sensdiri..
llalu menjalar keluar
duh, saya kok masih kurang disiplin pada diri sendiri, terutama dlm hal berolah raga.
semoga allah swt menguatkan lagi diri ini, agar bisa lebih disiplin lagi,amin.
salam.
saya juga mbak, harus jadi kebutuhan ya
Disiplin pribadi adalah yang utama, kesadaran diri sangat penting, apalagi malu pada diri sendiri, itu adalah kunci keberhasilan mengubah segalanya
benar sekali, jangan malu-maluin