Entah siapa yang ditiru, bangsa kita mempunyai hobi menyangkal dulu baru dicari kebenarannya. Kita masih ingat ketika salah seorang pembesar negara sahabat mengatakan bahwa Indonesia adalah sarang teroris. Tak pelak, beberapa pembesar kita rame-rame menyangkalnya. Padahal, akhirnya terbukti bahwa kasus-kasus peledakan bom bermunculan, dan pelakunya memang bermarkas di Nusantara. Untungnya aparat keamanan tanggap sehingga mereka dapat diringkus.

Budaya menyangkal (culture of denial) ini juga menghinggapi para pejabat yang lebih rendah. Ketika beberapa  daerah dinyatakan miskin maka para kepala daerah tersebut menyangkalnya dan langsung menggelar jumpa pers. Namun ketika ada bantuan untuk penduduk miskin, ternyata  penduduk daerah tersebut yang mendaftar cukup banyak.

Makanya tidak perlu heran jika ada yang mengatakan ” persediaan beras sampai akhir tahun masih cukup ” namun masih ada penduduk yang harus antri beras. Juga jangan heran jika ada pejabat yang oleh  media dinyatakan ” dicopot “, tapi atasannya menyatakan ” ini pergantian rutin yang sudah diprogramkan”.

Artispun juga terkena sindrom menyangkal. Ketika media menanyakan keadaan keluarganya maka buru-buru si artis mengatakan ” keluarga kami baik-baik saja kok, biasa kan kalau ada pertengkaran kecil “. Sebulan kemudian sang artis benar-benar bercerai.

Apakah sahabat punya daftar seperti itu ??