Tawuran antar mahasiswa terjadi lagi, kali ini pun disertai merusak kampus. Menyedihkan, memprihatinkan sekaligus mengecewakan banyak pihak karena yang tawuran adalah pemuda-pemuda calon pemimpin bangsa. Pasti tak ada yang membenarkan jika tawuran juga dianggap merupakan ekspresi sebuah reformasi atau demokrasi.

Adalah wajar jika ada suatu perbedaan pendapat diantara manusia yang sedang berhubungan dengan manusia lain. Namun beda pendapat harus dikelola dengan baik agar tak menjurus kearah adu otot.

Perselisihan yang berbuntut perkelahian awalnya bisa orang-perorangan, namun karena perkelahian itu tidak diselesaikan dengan siraman air tetapi justeru disiram dengan bensin dengan cara masing-masing pihak memberitahukan kepada sahabat atau saudaranya. Buntutnya, mereka berbondong-bondong melakukan penyerangan kepada orang atau kelompok yang diberi label ” musuh “

Tawuran atau perkelahian kelompok bisa terjadi karena beberapa hal antara lain karena timbulnya solidaritas atau jiwa korsa yang sempit sehingga bisa mengarah ke destruktif. Oleh karena itu perlu dikembangkan jiwa korsa yang positif agar hasilnya juga positif.

Tawuran disertai pengrusakan fasilitas pendidikan tentu sangat merugikan karena perlu biaya ekstra untuk  melakukan renovasi. Padahal disana-sini terlihat adanya bangunan SD yang kondisinya menyedihkan dan tidak ada biaya untuk memperbaikinya. Mengapa kampus tempat mereka menuntut ilmu harus dirusak ?

Kasus tawuran harus segera ditangani secara serius dan menyeluruh. Jika tidak, tawuran demi tawuran akan berlangsung terus yang bisa menimbulkan kerugian secara phisik maupun psikologis.