Kapan kita berjaya disini

Ketika puluhan orang dari negara-negara kecil sedang berjuang mati-matian di arena Piala Dunia, ketika itu pula jutaan manusia penduduk suatu negeri yang sering diberi sebutan Zamrud Katulistiwa ini sedang sorak- sorai didepan televisi masing-masing turut menyaksikan event bergengsi itu.Tukang becakpun enggan mengangkut penumpang karena uang setoran sebesar Rp. 25 ribu sedang dipakai untuk taruhan. ” Nonton dulu donk, ngapain nggenjot becak terus “, begitu katanya setiap ada yang minta diantar ke suatu tempat.

Mengapa negara yang penduduknya hanya puluhan juta itu bisa gagah di pertandingan sepakbola bergengsi ? Sementara Indonesia dengan penduduk yang demikian besar tak pernah berjaya di cabang olahraga populer itu.  Jawabannya akan sangat beragam. Ada yang bilang : ” lha ketika mereka sedang berlatih mengejar si kulit bundar kita justeru sibuk saling mengejar dan menggebuki bangsa sendiri kok. Lihat saja acara tawuran antar kampung, antar suku dan bahkan antar sekolahan atau kampus yang saat ini sedang marak “.

Kita memang terlalu banyak bicara, mengumbar jargon dan memasang banner ” Kau pasti menang “, ” Ini dadaku mana dadamu “, ” Pertandingan Persahabatan”, ” Tunjukkan Sportivitasmu “. Tetapi begitu masuk lapangan, tak lama kemudian sudah bermunculan gelas atau botol air mineral, batu, pentungan kayu dari berbagai arah. Setelah itu lapangan hijau tempat  yang seharusnya untuk mengadu taktik, tehnik dan strategi berubah menjadi arena kejar-kejaran antara penonton, pemain, wasit dan petugas keamanan.

Sementara dilayar televisi para pengamat olahraga dengan khusuk dan puluhan istilah-istilah tehnis olahraga bermunculan. “Striker tadi seharusnya sudah bisa mencetak goal namun sayangnya justeru dia membuat  blunder dengan melakukan sliding tackle di kotak penalty”, kata sang pengamat.

Apakah kita akan terus-terusan mengejar bangsa sendiri, pedagang kali lima, para WTS atau berlatih mengejar bola dilapangan bola agar sang Merah Putih bisa berkibar di berbagai arena kejuaraan olehraga ?  Apakah dengan alasan uang saku, fasilitas dan dana yang minim selalu dijadikan kambing hitam untuk sebuah ketidak berdayaan ? Lalu dimana kebanggaan dan kecintaan kita kepada ibu pertiwi ??

Apakah sahabat mempunyai saran jitu bagaimana upaya kita untuk memajukan olahraga di tanah air tercinta ini ?