Suami : ” Kamu kok lucu sih, perempuan kok merokok”
Isteri : ” Ya kamu itu yang lucu laki-laki kok tidak merokok”
Dialog diatas sangat ringan, tidak seberat dialog antara pengusaha rokok dan karyawan pabrik rokok dengan mereka yang melarang atau anti rokok.
Semua orang pasti tahu bahwa merokok itu lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Para dokter dan tenaga kesehatan lainnya berulangkali mengeluarkan pernyataan tentang bahaya merokok. Ruang gerak para perokok juga semakin sempit dengan semakin dibatasinya tempat untuk merokok. Anehnya, anggota Perkumpulan Udhut Sakti ini masih tetap eksis.
” Pabrik rokok jangan ditutup pak, kalau ditutup saya mau kerja apa, suaminya masih tergantung kepada saya “, kata seorang wanita yang bekerja di sebuah pabrik rokok di Jawa Timur. Maka fatwa yang mengharamkan rokok semakin mendapat reaksi dari berbagai lapisan masyarakat, ada yang pro dan ada pula yang kontra.
Jika fatwa tentang rokok itu haram itu dikeluarkan maka setiap muslim harus mematuhinya secara konsisten. Dengan demikian maka merokok, memproduksi,mengedarkan alias menjual rokok juga harus dihindari oleh setiap muslim. Sebagai akibatnya, mnajemen pabrik rokok akan mengurangi buruhnya dan lambat laun akan menutup pabriknya karena jumlah perokok makin sedikit.
Effek dominonya : pengangguran meningkat-kriminalitas akan meningkat.
Sayapun manggut-manggut menyaksikan tayangan televisi yang memperlihatkan para buruh pabrik rokok untuk menempelkan poster di tembok, salah satu diantaranga berbunyi : ” Rokok diharamkan, korupsi dan lokalisasi dibiarkan !!”
Saya jadi teringat pesan seorang khotib pada salah satu khutbahnya: ” Jangan mencegah kemunkaran jika akan menimbulkan kemunkaran baru “




Zaman sekarang udah edan, jd manusia jgn ikut2an edan. Rokok=Racun, keep way and no smoking.
jangan ikut edan,lebih baik ingat dan waspada
hahahahaah…. manakah lebih baik, mengolah tanah yang subur ini untuk hidup, atau menebang hutan untuk perumahan dari pada menjaga kesehatan?
maaf saya tak pernah menebangi hutan sayang
Wah… untung ayah nggak ngerokok PakDe.
lebih sehat dan hemat
saya jg tak suka lelaki merokok, Pakdhe
saya jg tak suka wanita merokok, nduk
Saya udah tidak merokok lagi Pakde.
saya masih mas
pakde gitu loh, cinta akan hijau.. pastinya
hijau dan biru sayang
Saya udah tidak merokok lagi Pakde.
saya masih mas
Kembali pada pribadi masing masing, akhirnya kepada alam kesadaran yang dalamlah semua akan terurai….
Maaf, coro gampange pakdhe
“Bila tiap perokok sadar dan berhenti merokok, rokok ditoko nda’ akan kejual, otomatis nda’ akan kulakan to, trus pabrik mau jual kemana? Ujung ujungnya kan mengurangi produksi,kalau produksi menurun, karyawan dikurangi,lama lama akhirnya bangkrut karna nda ada yang beli.”
jadi titik akhir nya kan di konsumen,trus titik awal menghilangkan rokok juga mesti dari konsumen.
Soal akibat buruk,kekerasan,kekacauan,kemiskinan itu sudah pasti ada, hanya yang perlu dipertanyakan sudah siapkah kita mengatasi semua itu?????
Embah bilang”nek isih wedi dicakot ulo ojo wani wani belajar dadi pawang ulo.”
akhirnya kayak lingkaran syaithon ya mas
sebaiknya tidak merokok